Modernisasi Budidaya Padi dan Jagung di Lombok Tengah
Hasil Ubinan Tumbuhkan Minat Petani, Tanam Rapat Terus Diuji
Lombok Tengah, 25 September 2026 — Petani yang semula meragukan penerapan PM-AAS padi kini mulai berminat mencobanya setelah melihat hasil di lapangan. Perubahan tanggapan tersebut disampaikan petani saat berdiskusi dengan Kepala Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Pangan, Dr. Haris Syahbuddin, DEA, di Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah.
Pada kegiatan PM-AAS, kepala BRMP NTB melaporkan bahwa ubinan varietas Cakrabuana yang dilaksanakan sebelumnya menghasilkan sekitar 9 ton gabah kering panen (GKP) per hektare. Hasil ini menunjukkan potensi peningkatan produktivitas melalui penerapan teknologi budidaya dan pengawalan pertanaman.
Saat meninjau lokasi PM-AAS, Haris menekankan pentingnya pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) pada tiga tahap, yaitu awal pertanaman, masa pertumbuhan, dan fase pematangan. Pengamatan pada setiap tahap diperlukan agar gangguan dapat ditangani secara tepat dan potensi hasil tetap terjaga hingga panen.
Dalam diskusi, petani peserta PM-AAS menceritakan bahwa metode yang mereka terapkan pada awalnya tidak mendapat kepercayaan dari sebagian petani lain. Namun, setelah hasilnya terlihat, sejumlah petani yang sebelumnya ragu menyampaikan keinginan untuk menerapkannya di lahan mereka. Pengalaman tersebut memperlihatkan pentingnya hasil nyata di lapangan dalam mendorong penerimaan teknologi oleh petani.
Kunjungan dilanjutkan ke lokasi KMP jagung untuk melihat uji coba tanam rapat dengan sistem jajar legowo 2:1 dan legowo 3:1 double row. Kedua sistem tersebut menerapkan pengaturan jarak tanam untuk meningkatkan populasi tanaman per satuan luas. Perkembangan pertanaman akan terus diamati, sedangkan hasil panen nantinya menjadi bahan evaluasi untuk menentukan pengaturan tanam yang sesuai dengan kondisi setempat.
Kegiatan PM-AAS padi dan KMP jagung masih terus berjalan. Melalui pendampingan, pengamatan pertanaman, dan evaluasi hasil secara berkelanjutan, penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan produksi padi serta jagung. Hasilnya juga diharapkan menjadi rujukan bagi petani lain yang ingin menerapkan metode serupa sesuai kondisi lahannya.